Breaking News
Trending Tags
Beranda » Ibadah » Merawat Hati agar Ibadah Tak Sekadar Gugur Kewajiban

Merawat Hati agar Ibadah Tak Sekadar Gugur Kewajiban

  • account_circle superadmin
  • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
  • visibility 5
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Muhammadiyahgoodlife.id — Ibadah kepada Allah SWT tidak cukup dimaknai sebagai rangkaian gerak fisik dan rutinitas lahiriah, tetapi harus melibatkan hati sebagai inti dan substansi utamanya.

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, Muhammad Arief, dalam ceramah Ahad pagi di Masjid Islamic Center UAD, Ahad (21/12/2025).

Dalam ceramahnya, Muhammad Arief menjelaskan bahwa ibadah memiliki dua dimensi yang saling berkaitan, yakni amalan zahir dan amalan batin. Amalan zahir meliputi salat, puasa, zakat, sedekah, dan berbagai ritual yang tampak secara fisik. Namun, seluruh amalan tersebut tidak akan bernilai sempurna tanpa disertai amalan batin berupa keikhlasan, ketundukan, kekhusyukan, serta niat yang benar.

Ia menegaskan bahwa Allah SWT tidak hanya memerintahkan ibadah secara lahiriah, tetapi juga menuntut keterlibatan hati. Bahkan, menurutnya, inti ibadah justru terletak pada kondisi batin seseorang. Allah tidak menilai ibadah dari tampilan fisik semata, melainkan dari hati dan amalannya, sebagaimana ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad saw.

Muhammad Arief menyoroti fenomena umum ketika seseorang melaksanakan salat secara fisik, namun pikirannya melayang pada urusan dunia. Dalam kondisi tersebut, ibadah hanya dilakukan oleh tubuh, sementara hati tidak hadir. Padahal, kekhusyukan merupakan amalan batin yang sangat menentukan kualitas dan penerimaan ibadah di sisi Allah.

Ia juga mengutip hadis yang menjelaskan bahwa pahala salat seseorang bisa berkurang sesuai kadar kesadaran dan kekhusyukan hatinya. Bahkan, Al-Qur’an memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang melaksanakan salat, tetapi lalai dalam salatnya. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah tanpa keterlibatan hati berpotensi kehilangan nilai spiritualnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya niat sebagai inti dari seluruh ibadah. Niat bukan sekadar formalitas, melainkan penentu apakah suatu perbuatan bernilai ibadah atau sekadar kebiasaan.

Dengan niat pula dapat dibedakan antara zakat, sedekah, hibah, atau hadiah, serta apakah suatu amalan dilakukan ikhlas karena Allah atau karena motif lain, seperti ingin dipuji atau dihormati.

Ia mengingatkan bahwa niat sepenuhnya berada di dalam hati dan tidak dapat diukur oleh manusia. Karena itu, seseorang bisa tampak saleh secara lahiriah, aktif beribadah dan sosial, tetapi belum tentu ikhlas di sisi Allah. Bahkan, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa orang alim atau ahli ibadah bisa menjadi golongan pertama yang diazab jika amalannya dilakukan demi pujian manusia.

Dalam ceramah tersebut, Muhammad Arief juga menguraikan tahapan niat dalam diri manusia, mulai dari lintasan hati hingga tekad kuat yang diwujudkan dalam tindakan.

Islam, menurutnya, memberikan keistimewaan besar pada niat. Seseorang yang berniat melakukan kebaikan sudah mendapat pahala meski belum melaksanakannya, sementara niat buruk yang tidak jadi dilakukan justru diganjar pahala sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT.

Ia pun mendorong umat Islam untuk membiasakan memperbanyak niat baik dalam setiap aktivitas kehidupan. Ia mencontohkan praktik para salafus saleh yang selalu menghadirkan niat sebelum beraktivitas, sehingga hampir seluruh aspek kehidupan mereka bernilai ibadah.

Menjelang bulan Ramadan, Muhammad Arief mengingatkan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu. Jika seseorang berpuasa namun tetap melakukan perbuatan sia-sia, makruh, atau haram, maka puasa tersebut kehilangan substansinya dan hanya menyisakan rasa lapar dan haus.

Ia menegaskan bahwa ibadah sosial seperti sedekah dan membantu sesama pun tidak otomatis bernilai ibadah tanpa niat karena Allah. Menurutnya, yang membedakan amalan seorang mukmin dengan selainnya adalah niat yang melandasinya.

Menutup ceramah, Muhammad Arief mengajak jamaah untuk tidak bersikap materialistis dalam beragama dengan hanya menilai ibadah dari aspek lahiriah. Ia menekankan pentingnya muhasabah secara berkelanjutan terhadap niat dan kondisi hati dalam setiap amalan. Menurutnya, ibadah harus sah secara zahir, namun diterima atau tidaknya di sisi Allah sepenuhnya ditentukan oleh hati.***

  • Penulis: superadmin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ngaji After Office Jadi Ruang Aman Pekerja Muda Bandung untuk Rehat Spiritual

    Ngaji After Office Jadi Ruang Aman Pekerja Muda Bandung untuk Rehat Spiritual

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle superadmin
    • visibility 2
    • 0Komentar

    muhammadiyahgoodlife.id/, Bandung — Saat langit Bandung berubah jingga, hiruk pikuk jalan belum sepenuhnya reda. Namun, sebuah masjid kecil di kawasan Buahbatu menghadirkan suasana berbeda. Satu per satu anak muda datang usai bekerja. Beberapa masih mengenakan ID card kantor, sementara yang lain membawa laptop. Rani (24), karyawan startup, menjadi salah satu peserta rutin. Ia mengaku sering […]

  • Ankle Pants dan Isbal: Tren Fesyen Anak Muda yang Sejalan dengan Ajaran Islam

    Ankle Pants dan Isbal: Tren Fesyen Anak Muda yang Sejalan dengan Ajaran Islam

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle superadmin
    • visibility 2
    • 0Komentar

    muhammadiyahgoodlife.id/, Bandung — Ankle pants dan isbal kini menjadi topik menarik di kalangan anak muda muslim. Celana dengan potongan di atas mata kaki ini tidak hanya populer karena gaya modern, tetapi juga memicu diskusi keagamaan. Tren Ankle Pants di Kalangan Anak Muda Di sejumlah pusat perbelanjaan Bandung, toko pakaian aktif memajang ankle pants sebagai produk […]

  • Era Keemasan Islam: Fondasi Ilmu Pengetahuan Dunia Modern

    Era Keemasan Islam: Fondasi Ilmu Pengetahuan Dunia Modern

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle superadmin
    • visibility 2
    • 0Komentar

    muhammadiyahgoodlife.id/, Bandung — Era keemasan Islam menandai masa ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat melalui kolaborasi lintas budaya. Pada periode ini, para ilmuwan Muslim tidak hanya menyerap warisan Yunani, Persia, dan India, tetapi juga mengolahnya menjadi fondasi penting bagi sains modern. Cahaya Ilmu di Tengah Dunia yang Gelap Sementara itu, ketika sebagian Eropa masih mengalami stagnasi […]

  • Benarkah Malam Jum’at Jadi Momen Paling Baik untuk Berdoa? Ini Penjelasan Para Ulama

    Benarkah Malam Jum’at Jadi Momen Paling Baik untuk Berdoa? Ini Penjelasan Para Ulama

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle superadmin
    • visibility 2
    • 0Komentar

      muhammadiyahgoodlife.id/, Bandung – Banyak umat Muslim memandang malam Jumat sebagai waktu yang istimewa. Di berbagai daerah di Indonesia, masyarakat memanfaatkan malam ini untuk membaca Surah Yasin, berdoa bersama keluarga, serta memperbanyak zikir. Karena itu, muncul pertanyaan di kalangan umat: benarkah malam Jumat menjadi momen terbaik untuk memanjatkan doa? Sejumlah ulama menjelaskan keutamaan malam Jumat […]

  • Dakwah di Era Digital: Peluang Besar dan Tantangan di Tengah Media Sosial

    Dakwah di Era Digital: Peluang Besar dan Tantangan di Tengah Media Sosial

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle superadmin
    • visibility 1
    • 0Komentar

    muhammadiyahgoodlife.id/, Bandung — Hubungan dakwah dan teknologi memasuki fase baru yang semakin dinamis. Media digital kini mengubah cara umat Islam belajar agama. Jika dulu jamaah mendatangi masjid, sekarang mereka cukup membuka ponsel untuk menyimak ceramah dari berbagai daerah. Perubahan ini tidak sekadar soal media. Teknologi juga menggeser budaya belajar agama. Dakwah kini hadir di ruang […]

  • Mantan Gitaris Masuk Pesantren, Reza Afdhal Temukan Makna Baru Lewat Musik

    Mantan Gitaris Masuk Pesantren, Reza Afdhal Temukan Makna Baru Lewat Musik

    • calendar_month Jumat, 1 Agt 2025
    • account_circle superadmin
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Muhammadiyahgoodlife.id, Bandung — Pilihan mantan gitaris untuk masuk pesantren kini menyedot perhatian publik, khususnya di kalangan anak muda muslim. Reza Afdhal (26), mantan gitaris band indie Jakarta, memilih meninggalkan gemerlap panggung musik dan menetap di sebuah pesantren sederhana di Bogor. Di sudut pesantren berlantai semen, Reza kerap memetik gitar akustiknya dengan nada lembut. Suaranya jauh […]

expand_less